Kamis, 07 Maret 2019 di 03.23 Diposting oleh Slamet 1 Comment



Siang seperti biasa, terik panas menusuk tubuh ini dan sedikit angin yang berhembus mengurangi rasa panas yang muncul. Siang ini Shin melakukan hal-hal seperti biasa tanpa ada yang berbeda sehingga membuat diri ini merasa bosan. Di usianya yang ke 24 tahun ini banyak orang-orang yang datang dan pergi dengan cepat, karena terlalu cepat Shin sampai tidak menngingat nama mereka satu-satu.
Kegiatan Shin sehari-hari saat ini hanyalah kegiatan biasa yang dilakukan oleh mahasiswa tingkat akhir. Datang dan pergi ke kampus maupun ke perpustakaan terdekat. Jika rasa bosan mulai muncul maka Shin akan mencari tempat dimana para pemuda berkumpul namun  diantara mereka tidak ada yang mengenal satu sama lain.
Dalam perjalanan pulang tidak ada yang berbeda seperti biasanya, dengan kendaraan yang selalu setia menemaninya. Tiba-tiba saja Shin merasakan kantuk yang luar biasa sehingga membuat Shin memejamkan matanya sehingga dia tidak sadar akan dirinya saat itu. Beberapa saat Shin merasakan hembusan angin yang berbeda dari biasanya ini membuat dirinya terbangun dari rasa kantuk yang seketika datang pada dirinya. Perlahan-lahan Shin membuka matanya dan melihat warna biru langit yang sangat memanjakan matanya. Sesaat Shin sadar bahwa dirinya tidak lagi berada di dunia dimana dirinya tinggal, walaupun begitu sikap santaiya membuat dirinya seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
Dengan rasa malas Shin berkata dalam hati “apa yang harus aku lakukan saat ini, tidak ada petunjuk apapun untuk memulai semua ini”. Tiba-tiba sekelompok orang mengenakan baju zirah lengkap dengan menggunakan kuda mendatangi Shin. “Hei kau! kau pasti seorang penyihir kan, ayo ikut kami ke kerajaan sekarang..” ucap salah satu dari para kesatria. Shin yang saat itu tidak mengerti apa-apa tentang kondisi tempat dia berada hanya bisa mengikuti perintah dari para kesatria yang mengganggap dirinya seorang penyihir. Besi dingin melingkar di tangan Shin dan bunyi khas dari rantai untuk menggiring sesuatu kini berada di tubuhnya dan membawanya ke kerata kuda menuju kerajaan yang dimaksud para kesatria.
Hembusan angin menerpa tubuh Shin yang tidak berdaya karena dikelilingi oleh para kesatria, saat ini Dia hanya bisa melihat kondisi daerah yang dilaluinya dimulai dari padang rumput yang pertama Dia jumpai kemudia memasuki daerah para petani yang menanam bahan-bahan makanan. Namun, dilihat dari kondisi para petani saat itu yang hanya menggunakan pakai kotor dengan tatapan mata yang layu, Shin meyakini bahwa meraka merupakan golongan bawah yang tinggal jauh diluar kerajaan. Kini Dia mulai memasuki kawasan padat penduduk menatap dirinya dengan tatapan menakutkan terdengan suara dari meraka yang sangat membenci penyihri. “Hey lihat itu penyihir jahat!” “penyihir!” “penyihir!” kata-kata itu terdengar jelas oleh Shin yang membuat dirinya kini menjadi ketakutan. “bahaya, bisa-bisa aku mati disini tanpa melakukan apa-apa, sepertinya aku harus memikirkan sesuatu untuk bisa keluar dari situasi ini”.
“Hei Penyihir! Malam ini kau akan menginap di dalam penjara ini hinga besok kau akan kami eksekusi umum” ucap kesatria perak dengan kejam. Shin mulai kebingungan “Aku bukanlah penyihir seperti yang kalian duga, aku hanya manusia biasa yang hanya tidak sengaja berada disana”. “Omongkosong, kau bukan dari negeri ini, hanya seorang penyihir yang mampu melakukan sihir teleportasi, kalau begitu selamat tinggal untuk malam ini penyihir!” akhirnya kesatria perak itu pergi meninggalkan Shin di dalam penjara.
Perasaan cemas dan takut mulai menyelimuti diri Shin “bagaiman ini? Apa yang harus ku perbuat”, Shin mengingat kata-kata kesatria perak tadi yang mengatakan bahwa hanya penyihir yang mampu melakukan teleportasi. Kini dia mencoba untuk melakukan teleportasi yang diucapkan kesatria perak “apa benar aku bisa melakukan hal itu? Namun melihat kondisi dunia yang sekarang aku berada sepertinya ini patut untuk dicoba, seepertinya aku harus mengikuti cara teleportasi seperti yang dilakukan di film kesukaan ku”. Shin mencoba dengan berdiri dan memfokuskan pikirannya beberapa saat namun hal itu sia-sia, tidak ada yang berubah darinya. Shin terus mencoba, mencoba, lagi, lagi dan lagi tetapi tetap saja tidak terjadi apa-apa. Akhirya Shin terjatuh pingsan karena kelalahan.
Tiba saatnya hari pengeksekusian penyihir tiba, Shin dibawa paksa oleh para penjaga kerajaan menuju balai kota, “Sepertinya hari ini aku akan mati disini, padahal masih banyak yang belum aku selesaikan didunia tepat asalku hidup, aku belum wisuda, Nikah dan cucian dirumah sepertinya masih banyak tapi yaah mau bagaimana aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi” Shin memberikan kata-kata terakhir pada dunia.........................